Pendidikan

12 SMP Percontohan di Pasigala ikuti Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


12 SMP Percontohan di Pasigala ikuti Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Palu – Sebanyak 12 Sekolah Menengah Pertama (SMP) percontohan di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) mengikuti kegiatan pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pelatihan tersebut berlangsung 4 hari sejak tanggal 12 hingga 16 Desember 2020 di Hotel Jazz, Kota Palu. Selain melibatkan pihak sekolah, pelatihan ini juga mengikutkan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab/Kota Pasigala juga Pengawas SMP sePasigala. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, H. Ansar Sutiadi turut hadir dan membuka kegiatan pelatihan secara resmi.

Pada arahannya, Ansar menyampaikan bahwa MBS bukan hal yang baru diterapkan disekolah, hanya saja konsistensi atau komitmen dalam penerapannya belum maksimal. Ia menyebut, Saat ini MBS sangat dibutuhkan sehingga sekolah-sekolah intervensi akan jadi piloting bagi sekolah lain. Begitupun dengan Life Skill Education (LSE)/ Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH), yang menurutnya secara social telah ditata dari awal, dari hasil tersebut pihaknya akan mencoba mengalokasikan dalam bentuk RKAS atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah.

Berdasarkan keterangan Program Officer Yayasan Karampuang, Muh. Sabir Saleh bahwa pelatihan MBS merupakan tindak lanjut dari kegiatan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bagi siswa SMP yang merupakan bagian dari program Education in Emergency yang dikerjakan oleh Yayasan Karampuang kemitraan Unicef Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kab/Kota Pasigala.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai suatu proses kerja komunitas sekolah dengan cara menerapkan kaidah-kaidah otonomi, akuntabilitas, partisipasi dan sustainabilitas untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu.

“dengan penerapan MBS di sekolah, kita berharap bisa meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. Selain itu MBS juga memiliki potensi untuk meningkatkan prestasi siswa dikarenakan adanya peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya dan personel, peningkatan profesionalisme guru, penerapan reformasi kurikulum dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan.” Terang Sabir.

Pada kegiatan pembukaan, turut pula hadir konsultan Unicef bidang Pendidikan, Zakir Akbar. Ia menyampaikan bahwa penerapan MBS berperan penting utamanya saat Ujian Nasional atau UN tidak lagi dijalankan. Ia  mengurai ketika pertama kali mengikuti MBS, ada yang disebut jendela johari atau johari window yang diperkenalkan dalam Manajamen Berbasis Sekolah, bagaimana proses pembelajaran dikelas, setiap guru memiliki peta siswa, seperti gambaran karakter siswa yang mau dan mampu, ada siswa yang mau tapi tidak mampu, ada juga yang tidak mau tapi mampu, dan masih banyak lagi.

“dengan adanya peta siswa, pihak sekolah memiliki informasi kompetensi dan aspek keberagaman itu dikedepankan bukan lagi keseragaman. Itulah dua hal yang cukup penting tentu dalam aspek muatan materi dan kami sangat berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan ini , karena akan banyak proses belajar bersama mulai dari mereview dan menyusun RPP, setelah itu bagaimana menghidupkan forum-forum MGMP yang ada di tempat kita masing-masing.” Himbaunya.

Ia berharap perwakilan sekolah yang mengikuti kegiatan pelatihan MBS dapat menjadi guru model untuk mengimbaskan kesekolah- sekolah lainnya.

Untuk diketahui, 12 sekolah yang terlibat dalam pelatihan tersebut diantaranya SMPN 6 Palu, SMPN 13 Palu, SMPN 14 Palu, SMPN 18 Palu, SMPN 1 Sigi, SMPN 4 Sigi, SMPN 8 Sigi, SMPN 9 Sigi, SMPN 1 Banawa, SMPN 3 Banawa, SMPN 1 Tanantovea dan SMPN 2 Sindue. (dhl)



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar