Umum

Aku Nyesel MemBully


Aku Nyesel MemBully


Farah berlari meninggalkan kami berempat sambil terus terisak. Aku memandangnya dengan setengah penyesalan. Bekas sahabatku itu, terus berlari hingga hilang dari pandangan kami. Namaku, Alya Nadya Ramadani, aku adalah salah satu anggota geng “Cantik-Cantik Imut”. Namun, sepertinya nama gengnya tidak sesuai dengan para anggotanya,bagaimana tidak meskipun cantik dan imut, kami berempat adalah geng yang paling ditakuti di sekolah.

      Salah satu sasaran kami adalah bekas sahabatku dulu. Kami berdua memutuskan persahabatan karena suatu kejadian yang tidak disengaja. Dia pernah menghilangkan pulpen dan sebuah buku gambarku. Saat itu, aku tengah sensitive hingga mudah marah. Akhirnya, aku tak sengaja memintanya agar menjauh dariku selamanya. Dia kaget dan akhirnya menjauh dan tak pernah membarsamaiku lagi.

    Kini, kami bagaikan benteng satu dan benteng lainnya, saling memusuhi dan mewaspadai. Suatu ketika geng “Cantik-cantik Imut” menawariku untuk bergabung, dan salah satu tawarannya adalah mem-bully Farah. Karena saat itu aku sedang sangat membenci Farah, aku pun langsung menerima tawarannya. Hingga detik ini, aku masih kesal pada Farah, namun tak tega pula aku mem-bully nya hingga terisak seperti itu.

***

Di rumah Alya…

    Pikiranku kembali menerawang, mengingat kebersamaanku dengan Farah. Saat pulang sekolah pun matanya masih terlihat sembab, mungkin masih terkejut dengan kelakuanku yang berubah 180 derajat. Dulu, memang aku adalah pembenci bully. Bahkan, aku sempat ikut kampanye Anti Bully yang dilakukan sekolahku setiap 2 bulan sekali. Pikiranku masih terganggu dengan kelakuanku terhadap Farah.

  TIIT…TIIT

    Bunyi pesan di ponselku membuyarkan kenangan itu. Aku meraih ponsel dan melihat, rupanya pesan dari Laura, salah satu gengku.

    “Jalan yuk, di mall biasa yah”  Pikiranku kembali menimbang, apakah ikut atau tidak. Akhirnya hampir 15 menit bingung, aku akhirnya memutuskan untuk ikut.

***

Di mall Aries…

    Para temanku sudah hampir setengah jam bercanda-ria. Sedangkan aku, masih terdiam kaku sambil berjalan pelan.

    “Alya, kok kamu diem mulu sih, biasanya kan kamu yang paling heboh” Ucap Lili.

    “Iya tuh Alya, kamu sakit ya, kalau kamu sakit kok kamu mau ikut sih” Laura menimpali sambil memperbaiki jepitannya.

    “Enggak kok temen-temen, aku lagi kehabisan kata aja.. hehe” Jawabku sambil terkekeh.

    “Teman-teman aku mau nyampein sesuatu” Aku kembali berkata sambil menghela nafas.

    “Apa Alya?” Laura, Lili, dan Tika spontan berbalik. Aku meminta mereka duduk dulu baru aku kembali bicara.

    “Sebenarnya…. Aku mau keluar dari “Cantik-Cantik Imut”” Ucapku cepat.

    “APA!??” Mereka masing-masing menganga, namun aku mengangguk meyakinkan.

    “Aku sebenarnya nggak suka kalian mem-bully Farah, jadi, maafin aku ya” Ucapku lalu berlari meninggalkan mereka persis seperti yang dilakukan Farah siang tadi.

    Kukeluarkan ponsel segera dan mencari nomor Farah yang belum sempat kuhapus. Dengan kumpulan keberanian, kutunggu panggilan itu segera di jawab.

    “Halo Assalamu alaikum, Alya ada apa kamu nelfon aku?”

  “Iya Waalaikumsalam Farah, aku mau minta maaf sama kamu karena kelakuan aku tadi siang.”

  “Oooh yang tadi siang, iya nggak papa kok aku paham”

  “Beneran Farah?”

  “Iya dong, kamu kan masih sahabat aku”

  “Makasih ya Farah, kamu masih menganggap aku ini sahabta kamu, padahal aku udah bully kamu. Sekali lagi maaf ya”

  “Iya, aku maafin kok, yaudah aku mau tidur dulu ya, bye Assalamu alaikum”

  “Iya Waalaikum salam”

  TIT..

Telefon dimatikan aku menghela nafas lega, akhirnya Farah bias memaafkan aku. Aku janji, aku nggak mau membully lagi.

Mamuju, Kamis, 15 Agustus 2019

[Karya Dzakirah Ananta. Pemenang juara ketiga Lomba Literasi tema ‘Mencegah Bullying dilingkunganmu’ yang diadakan oleh Yayasan Karampuang dalam rangka turut memeriahkan HUT RI ke 74 tahun.]


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar