Umum

Diskusi Antar Relawan Kemanusian : Sulbar Perlu Mekanisme Mitigasi Bencana


Diskusi Antar Relawan Kemanusian : Sulbar Perlu Mekanisme Mitigasi Bencana


Mamuju – Mengingat catatan sejarah Sulawesi Barat yang terbilang rawan bencana alam, mulai dari gempa, longsor sampai banjir bandang, relawan kemanusian Sulbar menganggap penting adanya mekanisme mitigasi penanganan bencana alam. Gagasan tersebut lahir saat kegiatan temu relawan dalam mengenang satu tahun tugas kemanusiaan bencana di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Dalam pertemuan yang berlangsung Minggu malam (29/9/19) pada salah satu café di Jl. Cik Ditiro Mamuju, dibuka ruang diskusi bagi penggiat kemanusiaan. Beberapa perwakilan lembaga yang hadir, menyampaikan gagasannya terkait penanganan bencana yang ada di Sulawesi Barat. Salah satunya, terkait perlu adanya mekanisme mitigasi bencana.

Hal tersebut diutarakan oleh jurnalis sekaligus penggiat kemanusiaan, Anhar Toribaras. Ia menyampaikan, saat terjadi bencana setahun lalu di Pasigala, warga Mamuju yang juga merasakan guncangan gempa berkekuatan 7,4 skala richter tersebut dan mendengar isu potensi tsunami, menjadi kasak kusuk mencari daerah ketinggian, sebab belum ada informasi mitigasi bencana kepada masyarakat.

“saya ingat persis tahun lalu, waktu kejadian gempa itu, kita masyarakat Mamuju juga merasakan guncangannya. Waktu itu kita semua panik mencari ketinggian karena beredar isu bahwa air laut mulai surut tanda akan ada tsunami, sampai macet dimana-mana. Menurut saya di Mamuju ini perlu ada mekanisme pananganan bencana, Sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat dapat mengetahui dimana tempat-tempat yang aman. Misalnya masyarakat yang ada disebelah selatan bisa menuju ke pintu gerbang simbuang, yang diutara bisa menuju ke kantor Polda dan yang ditengah ke Mamuju City misalnya, sehingga kita tidak kebingungan.” Urainya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Wakil Derektur Binmas Polda Sulbar, AKBP Setyo Hartono. Menurutnya pemerintah mesti menyiapkan suatu mekanisme penanganan bencana yang terukur agar ketika terjadi bencana, masyarkat tidak panik.

Selain dibuatkan mekanisme mitigasi bencana Setyo juga berharap para relawan penggiat kemanusian dapat saling bersinergi dan bekerjasama untuk misi kemanusiaan.

Tak hanya itu, Perwakilan Gema Difabel Sulbar, Sabar juga mengusul adanya mekanisme penanganan bencana yang inklusi sehingga orang-orang rentan dalam hal ini kaum difabel dan lansia juga mendapat perhatian.

Dengan pertimbangan tersebut diatas, relawan kemanusiaan asal Sulawesi barat sepakat membuat forum relawan se Sulawesi Barat, sehingga kedepannya diskusi terkait gerakan kemanusiaan dapat tetap berjalan dan apabila terjadi bencana dimanapun, para relawan dapat bergerak bersama.

Pertemuan tersebut berakhir dengan terbentuknya grup WhatsApp forum relawan yang berisi para relawan dan penggiat kemanusiaan yang ada di Sulawesi Barat. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar