Pendidikan

Jurus Peluk Beruang, Salah Satu Cara Menghadapi Anak Tantrum


Jurus Peluk Beruang, Salah Satu Cara Menghadapi Anak Tantrum


Mamuju - Hari kedua pelatihan guru PAUD HI 24-26 Februari 2020 di Maleo Hotel Mamuju Sulawesi Barat peserta belajar bagaimana menghadapi anak tantrum.

Program rutin yang menjadi sinergi bersama PTTEP Indonesia, Yayasan Karampuang dan IMZ Dompet Dhuafa Corporate University, berbagai case psikologi anak dibahas dalam sesi training hari kedua dalam rangkaian pelatihan bersama pegiat pendidikan dari 10 sekolah anak usia dini SIOLA Mamuju, Taman Siwalipari (Polewali Mandar) dan Taman Siarendengan (Majene).

Ketika anak emosi mengamuk atau biasa disebut tantrum, maka bapak ibu guru perlu mengetahui bagaimana tips trik nya agar mampu mengendalikan kembali normal. Usahakan memeluk anak dengan posisi menghadap ke kita. Upayakan tidak di kursi, dapat dilakukan di karpet atau melantai supaya lebih kokoh. Arahkan anak duduk kita pangku dengan arah menghadap ke kita.

Jika anak menghadap ke kita, kita bisa mengantisipasi berbagai gerak gerik anak yang sangat kuat. Satu kaki anak dihimpit di sisi kanan kita, satu kaki lainnya di sisi kiri kita. Tapi tidak boleh membuat anak sakit atau tersesak. Ini memberikan jeda kepada anak yang sedang tantrum.

Kunci berikutnya adalah dialog yang singkat tapi jelas dengan si anak.

"Kakak sedang marah..." (Refrase)
"Oke, ibu Guru tahu kakak lagi marah"
"Ibu bantu ya"
"Tapi, Ibu Guru tak bisa bantu, jika kamu belum berhenti menangis"

Tahap berikutnya adalah berikan batasan waktu. Dapat menggunakan bernyanyi singkat/senandung atau berhitung (misal 1 sampai 10).

"Oke bu Guru akan berhitung, 1 sampai 10. Nanti kalo sudah 10, kakak berhenti ya menangisnya"
"Tidak terlalu cepat, satu ... dua ... tiga ... dan seterusnya"

Hal lain yang juga bisa membantu adalah menggoyangkan badan (mirip seperti gerak ketika menimang anak bayi saat rewel). Hal ini akan membantu sensoris vestibularnya, yang akan membantu juga produksi hormon antara lain seretonin yang akan menenangkan anak. Kita bisa peluk sambil menggoyangkan. Dengan goyang ke depan belakang, atau kanan kiri, senyaman bapak ibu. Ini membuat kita lebih rileks dalam menghadapi. Dan guru tidak boleh larut dalam emosi.

"Oh maaf kakak belum bisa tenang. Kalo gitu kita ulang lagi ya. Ibu akan lepaskan kalo kakak sudah bisa berhenti menangis"

Karena pada saat emosi, yang bekerja amigdala. Jadi dia belum mengerti apakah itu perbuatan baik atau tidak.

Tips trik dalam menghadapi anak tantrum seperti ini juga sejalan dengan tuntunan Islam. Bahwa ketika kita sedang emosi atau marah, kita dianjurkan merubah posisi. Ketika duduk, kita berdiri. Hal ini juga diteliti oleh para ahli otak. Ketika orang yang sedang emosi berganti posisi tubuh, membuat kita ada jeda. Sekitar 6 detik, aktivitas ini memberikan waktu bagi otak, sehingga oksigen masuk, kontrol diri kembali seimbang, limbik system sudah cooling down. Kemudian baru bisa efektif otak bagian PFC (yang membedakan baik buruk) bekerja.

Alternatif lain dapat juga dengan melakukan relaksasi dengan memegang bahu anak yang sedang emosi. Ini juga bisa dilakukan bagi pasangan rumah tangga yang lagi emosi, pasangan bisa pegang bahunya.

Agar dapat berpikir normal atau sehat, itu kuncinya ada di otak kita. Bahan bakar otak untuk dapat berpikir adalah oksigen. Ketika aktivitas relaksasi, maka pembuluh darah yang tadinya mengecil menjadi melebar. Agak pijit ditekan agar oksigen kembali masuk ke otak.

Selain itu, pastikan saat kita menangani anak yang sedang tantrum, jangan sampai dehidrasi. Pastikan ada air, kakak minum dulu. Ataupun tidak masuk angin. Efeknya salah satunya malam bisa peningkatan suhu badan. Demikian penjelasan Diana Rahma, Psikolog Anak.

(Rls/Edit: Anhar)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar