Pendidikan

Kabupaten Mamuju sebagai Ujicoba Stategi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah


Kabupaten Mamuju sebagai Ujicoba Stategi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah


Latar belakang Lahirnya Ide Strategi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah oleh Bappenas dari tahun 2016 sebagai penjabaran Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, dimana Wajib Belajar 12 tahun ditetapkan sebagai salah satu prioritas pembangunan pendidikan. Tujuan umum dari stranas ATS ini adalah Mengupayakan agar seluruh anak Indonesia usia sekolah (7-18 tahun) dapat kembali berpartisipasi dalam pendidikan dan/atau pelatihan yang sesuai dan bermanfaat menuju tuntasnya Wajib Belajar 12 Tahun.

Uji coba STRANAS ATS dilakukan di 2 kabupaten di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat dan Brebes Jawa Tengah. Selain itu juga karena kedua Kabupaten ini memiliki angka ATS yang tinggi di Indonesia.

Prinsip pengembangan Stranas P-ATS adalah dengan Penguatan dan peningkatan manfaat program pemerintah yang sudah dijalankan dengan melakukan pemetaan kebijakan yang sudah ada dalam berbagai sektor. Sehingga tidak perlu menciptakan program yang baru. Selain itu, mengidentifikasi rekomendasi aksi prioritas berdasarkan faktor penyebab anak tidak sekolah. Diantara penyebab terbanyak anak tidak sekolah adalah anak yang bekerja, anak menikah muda, anak yang berada di daerah terpencil dan tidak memiliki akses, anak disabilitas, Anak terkait hukum/berada di lembaga pemasyarakatan, Anak jalanan dan anak terlantar, serta ATS lainnya yakni karena faktor ekonomi. Dari faktor masyarakat hambatan ekonomi masih menjadi faktor penyebab terbesar

Strategi penanganan ATS dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu

strategi intervensi dan strategi pencegahan. Strategi intervensi pada anak usia 7-18 tahun yang masuk dalam kelompok Drop Out atau putus sekolah, kelompok anak yang lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan kelompok anak yang tidak pernah sekolah samasekali. Sedangkan strategi pencegahan untuk anak dalam kategori beresiko putus sekolah

 

Pada tanggal 23 sampai 24 Juli 2019 kemarin, melalaui kerjasama kerjasama Pemerintah Kab. Mamuju dan UNICE, Yayasan Karampuang melaksanakan kegiatan Workshop Stretegi Nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah yang diikuti oleh 48 peserta, merumuskan penanganan anak tidak sekolah dengan dimulai dari mencari akar masalah penyebab anak tidak sekolah. Jika melihat angka dari Data SIPBM kabupaten Mamuju tahun 2015, terdapat ATS karena bekerja menerima upah 200 anak, penyandang disabilitas 181 anak, ATS karena menikah 719 anak, ATS karena tidak mau sekolah 3000an dan ATS karena tidak memiliki biaya 4000an anak.

Dari hasil diskusi peserta terdapat 8 issue penyebab anak tidak sekolah di Kab. Mamuju : diantaranya adalah karena faktor biaya, kurangnya dukungan orang tua, sekolah yang tidak menarik, jarak tempuh sekolah yang jauh, Perkawinan anak, anak yang bekerja, tidak adanya data update terkait anak tidak sekolah, dan faktor lainnya mencakup regulasi sekolah, zonasi dll

Rekomendasi kegiatan yang di lahirkan dari kegiatan ini Membentuk tim Penanganan Anak Tidak sekolah di level kabupaten dan Tim Kerja yang akan merusmuskan kembali peran lintas sektor dalam penanganan anak tidak sekolah.


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar