Umum

Mengerikan Jika Menjadi Siswa Baru


Mengerikan Jika Menjadi Siswa Baru


Hari – hari begitu indah dengan menjadi salah seorang siswa baru di sebuah SD. Layaknya anak sebaya Laras (bukan nama sebenarnya) sedang berjalan dan ingin masuk kelas. Tiba-tiba saja

 “ duaaaarr…. “

 ia terjatuh dan menangis. Ternyata ada anak laki – laki yang mengerjainya dengan tali bening yang tak nampak jika tidak diperhatikan seksama. Terang saja itu hari pertamanya masuk sekolah baru, tapi di perlakukan dengan seperti itu. Deri datang dan memberikan tangannya pada Laras .

 “ sini ku bantu “ ucapnya sambil tersenyum pada Laras.

 “ terima kasih “ kataku sambil mengusap air mata.

Aku dan deri duduk di bangku yang bersampingan. Teman teman berteriak        

“ jangan berteman dengan Deri, dia hitam dan jelek “.

 Alhasil kami berdua menjadi bulian teman – teman sekelas. Karena memang Deri memiliki kulit yang agak gelap tapi memiliki senyum yang manis. Setelah dari sekolah kami selalu bersama dan orangtuaku juga mengenal Deri. Jadilah ia teman pertamaku di sekolah baru.

Kembali ke sekolah, aku pikir semoga saja bukan hari yang menyedihkan lagi. Datangku dengan senyum sambil memegang tali ranselku. Kulihat Deri sedang membeli jajan, ku dekatilah dia. Tiba tiba saja, Rafa anak nakal itu berlari dan mendorongku sehingga jajanan Deri pun jatuh.

 “ Deri, maafkan aku. Tidak sengaja tadi Rafa berlari dan mendorongku”. Kataku dengan wajah memelas.

 “ tidak apa – apa Laras, aku tahu koq gimana Rafa”.

Setelah kejadian itu Deri jadi tidak punya jajan. Untung saja ibuku memberiku bekal dan aku membaginya dengan Deri.

“ Wah, terima kasih Laras, tapi ini apa ya ? koq ada telur sayur dan roti ?:” Tanya Deri bingung.

 “ Ogh itu sandwich hehe “ jawabku tersenyum melihat tingkah lucunya. “ ayo cepat makan sebelum anak anak yang lain lihat “ pintahku. “ okey Laras “.

Deri dan aku menjadi sangat akrab setelah seminggu sekolah. Hanya kami berdua, teman – teman lain tidak ingin berteman, sampai suatu saat Nisa memanggilku.

 “ Laras, sini …” pintanya.

“ Iya, ada apa Nisa”.

“ Nih, belikan aku air 2 gelas sekarang, cepat tidak pakai lama

“. Pintanya ketus. “

aku yang takut akhirnya mengiyakan suruhannya. Aku sendiri membeli yang disuruh oleh Nisa .

 “ tante… saya beli air 2 ini uangnya”, kemudian aku pergi. Dan tak lama aku dipanggil kembali oleh anak di kantin itu.

 “ hey kamu, di panggil tante tuh, katanya kamu belum bayar”. Kata anak itu.

Aku pun kembali dan menjelaskan pada tante.

 “ tante tadi sudah saya letakkan di sini uangnya, mungkin tante tidak lihat” mataku berkaca – kaca ingin menangis. “aku gk punya uang tante, karena ini aku di suruh sama temanku”.

Tante yang mendengar ceritaku berkata “ ya, sudah dik tidak apa – apa. Lain kali jangan mau ya kalau di suruh teman lagi”. Bicaranya lembut padaku.

Sejak saat itu aku bertekad pada diriku untuk tidak mau jika di suruh lagi, dan tidak akan takut dengan pembulian karena sejak masuk sekolah ini sudah beberapa kali aku mendaptkan bully, apalagi Deri. Mungkin dia sudah banyak menderita karena Bully.

Aku pun kembali ke sekolah dan memberikan air pada Nisa,

“ ini Nisa air kamu”. Nadaku kesal

“kamu, kenapa ? kok lama sekali, beli air 2 saja seperti beli se gallon. Kamu tidak suka aku suruh – suruh “ nadanya keras podaku.

“iya, saya memang tidak suka kamu suruh-suruh, jadi jangan suruh aku lagi”. Nadaku meninggi, dan berlalu meninggalkan Nisa dan teman temannya.

“Berani sekali dia, lihat saja kau anak baru, akan ku beri pelajaran” gumam Nisa dalam hati yang memiliki niat jahat.

Bel pulang sekolah berbunyi, kring…kring…kring… aku dan Deri pulang berjalan kaki, karena hari ini aku ingin main di rumahnya dulu. Selama kita berjalan, seperti ada yang mengikuti kita. Ya, benar saja Nisa dan komplotannya.

“ wah.. ada apa nih, kenapa mereka berombongan ?”. tanyaku dalam hati.

“ Laras, ayo kita lari “, ucap Deri padaku dan menarik tanganku.

Tapi, tidak di depan ada teman – teman yang lain menghadang, dan mengajar Deri dan aku. Mereka bertindak kasar pada Deri, memukul kepalanya, menendangnya bahkan menarik rambutnya dan melepakan sepatunya kemudian di buang. Hatiku, berfikir cara untuk lari karena tanganku di ikat oleh meraka.

“ lihatlah, nasib temanmu anak sok berani, ini karena kamu berani bernada tinggi di hadapanku”

Mereka dengan bangga dan tertawa melihat keadaan Deri di perlakukan seperti itu. Aku tak bisa tinggal diam. Ada celah ku lihat untuk lari dan melapor pada ibu guru sebelum sekolah benar – benar sepi. Aku berhasil, dan mendapati ibu wali kelasku depan gerbang. Denga bercucuran keringat dan terengah – engah aku bicara

“ ibu, ayo cepat bu, Deri daloam bahaya dia di bully oleh Nisa dan kawan – kawan ibu”.

Ibu guru pun segera mengikuti aku dan sampailah kita di tempat Deri karena tepatnya di belakang sekolah.

“heii, apa yang kalian lakukan pada teman kalian, cepat hentikan atau kalian ibu laporkan pada kepala sekolah”. Kata ibu guru.

Mereka yang takut dengan ancaman ibu guru akhirnya melarikan diri. Deri sudah terbujur lemas dan aku di lepakan ikatannya oleh ibu guru.

“ kenapa kamu tidak bilang kalau ada yang bully jika di kelas ?” Tanya bu guru

“ kami, takut ibu, akibatnya akan lebih fatal dari ini”.

“baiklah kalau begitu mereka semua akan ibu kirimkan surat kepada orangtuanya dan harus mengahadp besok di ruang kepala sekolah, kali anakn ibu antar tiap pulang sampai masalah ini selesai:”.

“makasih atas bantuannya ibu” kataku.

Setelah kejadian itu, Nisa dan kawan – kawan di anjurkan mengadap di ruang kepala sekolah bersama orang tua mereka, dan di beri surat perjanjian agar tidak lagi membuly. Karena bully dapat merusak mental dan menjatuhkan kepercayaan diri serta anak yang di bully memilki harga diri yang rendah sehingga menjadi anak yang tertutup. Kepala sekolah mengumumkan jika ada yang melakukan pembullian lagi di sekolah atau ada yang menjadi korbannya . anak itu akan langsung di keluarkan dari sekolah dan akan di rehabilitasi kejiwaannya.

          Jadi, sejak saat itu aku, Deri dan teman – teman lainnya saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukan bullying lagi. Karena akan merusak masa depan dan menjadi kejiwaan yang terganggu hingga besar nanti.

 

Jika ada yang melihat bullying segera laporka kepada orang yang dapat mengatasinya, jika anak – anak laporkan pada ibu guru atau orang tua. Jika anak remaja laporkan pada orang tua dan jika dewasa laporkan pada pihak berwajib jika memang tak bisa lagi ditangani.

 

STOP BULLYING, JAGALAH ANAK ANDA DAN BERIKAN EDUKASI TENTANG BULLYING SERTA CARA AGAR TIDAK MENJADI KORBAN BULLYING ATAUPUN PELAKU BULLYING

Mamuju, 14 Agustus 2019

 

[Karya Manjaeni Muhtia Sagita. Pemenang juara pertama Lomba Literasi tema ‘Mencegah Bullying dilingkunganmu’ yang diadakan oleh Yayasan Karampuang dalam rangka turut memeriahkan HUT RI ke 74 tahun.]



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar