Perlindungan Anak

Menyasar Remaja, Dukungan Psikososial Yayasan Karampuang Edukasi Pencegahan Perkawinan Usia Anak


Menyasar Remaja, Dukungan Psikososial Yayasan Karampuang Edukasi Pencegahan Perkawinan Usia Anak


Mamuju – Dukungan psikososial pasca bencana yang dilaksanakan oleh Yayasan Karampuang Mamuju menyasar remaja usia 10 sampai 15 tahun. Berjalan sepekan setalah gempa bumi Magnitudo 6,2 dukungan psikososial ini sekaligus memberi edukasi tentang pencegahan perkawinan usia anak. Kegiatan ini mereplikasi respon bencana yang telah diterapkan di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) Sulawesi Tengah tahun 2019.

Fasilitator Remaja Yayasan Karampuang, Nilam Sastika menjelaskan bahwa pada sesi 8 remaja diajak berdiskusi mengenai beberapa kasus perkawinan usia anak yang membawa pengaruh buruk terhadap anak. Yaitu, anak akan terkendala dibidang pendidikan karena putus sekolah. Hal tersebut akan turut mempengaruhi ekonomi keluarga, dimana anak tidak memiliki ijazah, akan kesulitan mendapatkan pekerjan, meskipun ada, nilai upahnya rendah.

Perkawinan usia anak juga berpengaruh pada aspek kesehatan, kondisi rahim anak yang belum siap membuahi dapat berpengaruh pada gizi bayi yang dikandung hingga mengakibatkan stunting bahkan kondisi tersebut beresiko kematian ibu dan bayi. Begitupun dari segi sosialnya, pada usia 19 tahun kebawah, anak masih butuh bermain, jika sudah terikat dalam hubungan pernikahan, mereka akan terpaksa jauh dari dunia bermain dan harus menanggung beban mengurusi anak.

“hal-hal itu semua yang menjadi bahan diskusi kami dengan anak remaja di pengungsian. Jadi kami memberi contoh kasus lalu mereka diskusikan secara berkelopok. Mereka jadi memiliki gambaran bagaimana sulitnya jika seorang anak harus menanggung beban mengurus anak lagi akibat dari menikah diusia yang masih anak-anak.” terang Nilam.

Selain itu, juga disebutkan bahwa negara kita telah mengatur usia perkawinan baik perempuan dan laiki-laki yaitu minimal 19 tahun. Ini tertera pada Undang-Undang nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Sehingga jika terjadi perkawinan sebelum usia 19 tahun, maka tidak mendapat pengakuan dari Negara. Dampaknya, tidak memiliki buku nikah dan akan kesulitan dalam mengurus dokumen kependudukan lainnya.

Pada tahapannya, dukungan psikososial yang berjalan konsisten di 5 titik posko pengungsian tersebut dijalankan sampai 10 sesi. Selain mengedukasi tentang usia perkawinan ideal, remaja juga dikenalkan tentang bagaimana membangun hubungan yang sehat. Metodenya yaitu dengan menggunakan kit remaja yang dikembangkan oleh Unicef Indonesia, salah satunya dengan buku cerita berjudul ‘Hidupku Pilihanku’.

“jadi pada sesi ini, remaja belajar untuk menjalin hubungan yang sehat, yaitu saling menghargai pendapat. Jika janjian bertemu dengan teman harus ditempat yang ramai, dan berani menolak jika teman mengajak atau memaksa untuk melakukan hal yang tidak diinginkan.” Sabungnya.

Untuk melengkapi sesi tersebut, tidak lupa fasilitator mengenalkan jenis-jenis kekerasan. Remaja diajak mengidentifikasi bentuk kekerasan dan memilah mana yang termasuk kategori kekerasan fisik, emosional dan seksual.

Riskawahyuni (15), peserta Lingkar Remaja, mengaku bersyukur mendapat kesempatan terlibat di kegiatan Dukungan Psikososial Yayasan Karampuang . katanya, ia jadi belajar banyak hal baru, termasuk usia perkawinan ideal dan dampak buruk dari menikah usia anak.

“selama ini belum tau kak, kalau usia perkawinan itu minimal 19 tahun.” kata Riska. 

Selain itu, ia juga mengaku bisa mengetahui jenis-jenis kekerasan dan 4 dasar hak anak, yaitu hak hidup, tumbuh dan berkembang, perlindungan dan partisipasi.

Dukungan psikososial Yayasan Karampuang melalui lingkar remaja berjalan secara konsisten 10 sesi di 5 titik posko pengungsian, diantaranya, Posko Danga Kelurahan Binanga, Posko Sukasimin Kelurahan Rangas, Posko Mercusuar Desa Sumare, Posko Pasada’ Desa Botteng Utara dan Posko Taludu Desa Botteng. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar