Perlindungan Anak

Palu Bangkit, Gelak Tawa Hadir, Cita cita Kembali Diukir


Palu Bangkit, Gelak Tawa Hadir, Cita cita Kembali Diukir


Bukan ditempat mewah, hanya dibawah tenda darurat, gelak tawa anak-anak korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu Sulawesi Tengah kembali hadir. Bersama Relawan Yayasan Karampuang Mamuju dan Lingkar Remaja, mereka kembali merajut cita-cita. Diawal perjumpaan hari Sabtu (13/10) pagi, ketegangan dan kehampaan tersirat diraut wajah anak-anak di posko-posko pengungsian.

Siapa yang menyangka dengan mengajak mereka ke posko bermain, mengajak menggambar, mewarnai dan mendengarkan dongeng, juga mengikuti kegiatan bermain dan belajar di lingkaran remaja, tawa mulai terdengar, lalu sedikit demi sedikit cita-cita yang luar biasa mulai diutarakan. Ingin menjadi dokter, guru, polisi, polisi wanita dan TNI adalah sebagian kecil dari cita-cita mereka. Annisa Ulfiah (14 tahun) salah satunya, anak yang mengungsi Di Petobo Atas, tempat pengungsian masyarakat Petobo yang terdampak fenomena likuifaksi, memiliki cita-cita yang sedikit berbeda dari anak-anak pada umumnya, yaitu menjadi Atlet Lari.

Dalam kegiatan lingkar remaja yang membangkitkan semangatnya, Anisa menulis bahwa untuk mencapai cita-citanya tersebut ia mesti belajar, terus berlatih, rajin sekolah, mempersiapkan mental, dan harus disiplin. Ada juga sepenggal cerita dari posko pengungsian Balaroa, Namanya Reno berumur 11 tahun yang bercita-cita menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI). ‘Cita-citaku jadi tentara, Saya mau membantu orang-orang yang kesusahan macam di Palu. tulis Reno di peta impiannya saat kegiatan lingkar remaja yang dipandu oleh fasilitator remaja binaan Unicef.

Sementara di Posko Dayu Bantaya, Kota Palu, ada sosok bidadari kecil bernama Nur Oktafia yang berusia 12 tahun. Oktafia adalah anak yang selamat dari terjangan tsunami yang masih optimis meraih mimpinya menjadi dokter. Selain mereka, masih banyak lagi impian dari para malaikat kecil yang selamat dari bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawei Tengah itu. Dimana, kehadiran posko bermain dan para relawan menjadi salah satu pemacu semangat mereka. Terbukti, dihari kedua yakni hari Minggu (14/10), mereka datang lebih dulu dari jadwal pertemuan, menunggu kedatangan relawan dengan suka cita. Posko bermain yang dibangun oleh relawan Yayasan Karampuang dan Lingkar remaja bertempat pada tiga titik pengungsian yakni di Petobo, Balaroa dan Dayu Bantaya. Bermodalkan donasi dari masyarakat Mamuju, Tim relawan mengisi posko tersebut dengan ragam mainan dan alat edukasi anak, mulai dari boneka, robot-robotan, mobil-mobilan, buku gambar, pensil warna dan lain-lain sehingga melahirkan binar, canda dan tawa diraut anak-anak. Dengan tujuan menghilangkan rasa trauma anak pasca melihat dan merasakan langsung gempa, tsunami dan fenomena likuifaksi yang terjadi tanggal 28 September 2018 lalu, relawan mengajak anak bermain dengan model pendekatan berbagi umur disetiap posko. Yaitu kelas usia 0-5 tahun untuk kelas bermain anak, lalu usia 6-9 tahun untuk kelas mendongeng, menggambar dan mewarnai, dan usia 10-14 tahun untuk kelas lingkar remaja.

Berdasarkan keterangan koordinator lapangan Aditiya Yudistira, pembagian berdasarkan usia ini diharapkan dapat lebih maksimal dan terukur. Ditambahkan, tim telah merekrut relawan lokal agar pendampingan diposko bermain dapat tetap berjalan kondusif. Pendampingan yang berlangsung dua hari Oleh tim Yayasan Karampuang tersebut, tercetat kurang lebih 300 anak di tiga posko pengungsian yang masih berusia sekolah dan begitu membutuhkan uluran tangan saudara setanah air, terkhusus untuk perlengkapan sekolah, demi mencapai cita-cita mereka. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar