Pendidikan

Pendampingan Life Skill Education di Sekolah dan PKBM Lahirkan Ragam Cerita Positif


Pendampingan Life Skill Education di Sekolah dan PKBM Lahirkan Ragam Cerita Positif


Palu – Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) / Life Skill Education (LSE) mulai diimplementasikan di 12 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 6 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Palu, Sigi, Donggala (Pasigala). PKH memberi metode pendidikan yang menuntut guru untuk menggunakan pendekatan partisipatoris dalam pelibatan peserta didiknya saat proses belajar mengajar.

Dua minggu berjalan sejak akhir bulan Agustus 2020, PKH telah melahirkan ragam cerita positif, utamanya terkait perilaku remaja. Sebagaimana dibeberkan oleh salah seorang fasilitator PKH di SMP Negeri 9 Sigi, Syamsuddin, bercerita bawha pendampingan PKH memberi dampak positif bagi anak remaja disekolahnya, termasuk hubungan emosional antar siswa kini terjalin lebih akrab.

Lebih spesifik, Syamsuddin bercerita menganai sesi PKH yang membahas ‘bulliying’ atau perundungan. Tak dapat dipungkiri, kata Syamsuddin, dilingkungan sekolahnya masih terjadi kasus perundungan, namun setelah peserta remaja mendapatkan pendampingan PKH yang membahas hal tersebut, mereka jadi memahami dampak bulliying dan lebih berempati.

“peserta remaja kami sangat antusias, mereka senang dengan proses belajarnya. Sebenarnya informasi yang disampaikan dalam modul sudah mereka kenali, namun baru kali ini dijalankan dengan lebih terstruktur, dan mereka diajak untuk aktif. Seperti materi bulliying, sebenarnya mereka sudah tahu kalau itu tidak bagus, hanya saja dengan pendekatan yang dilakukan ini mereka jadi sadar dan justru berempati. Bahkan ada satu sesi, mereka bermaaf-maafan setelah saling mendengarkan tentang apa yang mereka rasakan terkait bulliying itu.” Papar Syamsuddin, saat dimintai keterangan vie telepon, Selasa (8/9).

Cerita lain juga datang dari PKBM Khatulistiwa Palu. Dengan latar belakang pendidikan nonformal, peserta di PKBM nyatanya juga antusias dan terlibat aktif. Seperti disampaikan oleh fasilitator PKH PKBM Khatulistiwa, Surya Darma, bahwa peserta cukup bersemangat untuk mengikuti sesi, baik laki-laki maupun perempuan, semua terlibat secara aktif.

“saat ini kami sudah selesai pertemuan keempat. Perubahan perilaku dari peserta mulai terlihat, dari yang awalnya hanya diam, sekarang lebih berani lagi. Mereka sangat bersemangat mengikuti pertemuan, walaupun kadang ada yang tidak sempat hadir karena ada pekerjaan diluar tapi mereka tetap memberi kabar. Ini juga menjadi tantangan kami masalah kehadiran, karena rata-rata mereka sudah bekerja, jadi kami menyepakati jadwal sesuai dengan waktu luang mereka.” Urai Surya Darma.

Untuk diketahui, konsep pendampingan PKH, siswa-siswi diajarkan bagaimana mereka dapat menggunakan keterampilan hidup dan pengetahuan tertentu untuk mengendalikan sebuah situasi atau memecahkan masalah umum yang mereka hadapi. Terkadang masalah bisa bersifat sensitif, tabu, atau kontroversial untuk dibahas, namun jika menghindar untuk mengajarkannya kepada remaja, ada kemungkinan mereka dapat membuat keputusan yang buruk yang dapat berdampak negatif bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Dalam prosesnya, Pendampingan PKH yang berjalan atas kerjasama Pemerintah Kota/Kabupaten Palu, Sigi, Donggala dengan Unicef Indonesia melalui kemitraan Yayasan Karampuang akan berlangsung selama 22 sesi. Adapun output dari kegiatan ini, diharapkan siswa didik mampu menganalisa masalah mereka sendiri dan membuat sebuah rencana aksi untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar