Pendidikan

Pendidikan Universal untuk anak di desa


Pendidikan Universal untuk anak di desa


Persoalan Anak tidak sekolah masih menjadi Tantangan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, yang hingga saat ini masih belum terselesaikan. Sementara itu Pendidikan merupakan hak yang sangat fundamental bagi anak. Hak yang wajib dipenuhi dengan kerjasama yang kuat anatara masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah. penanganan anak tidak sekolah di mamuju telah berjalan dari tahun 2012 sampai saat ini melalui Program Gerakan Kembali Bersekolah dan pengadaan seragam sekolah bagi semua anak.  Namun tidaklah mudah untuk merealisasikan pendidikan, khususnya menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Penyebab anak tidak bersekolah sangatlah kompleks, baik karena faktor internal maupun eksternal.

 Aspek internalnya, yaitu situasi anak atau motivasi untuk belajar dan bersekolah belum kuat, bisa di sebabkan karena anak sudah mulai bekerja untuk mendapatkan upah, anak yang menikah, anak yang di bully, anak disabilitas, bahkan ada anak yang tidak mau bersekolah hanya karena memiliki tubuh yang lebih besar dari teman sebayanya. Faktor internal lainnya adalah dukungan dari orang tua yang tidak mendukung pendidikan anaknya. Sebagian besar adalah karena faktor ekonomi, tidak ada biaya namun diantaranya adajuga orang tua dari kalangan orang berada yang tidak menyekolahkan anaknya karena sudah bisa mendapatkan penghasilan misalnya dengan melanjutkan usaha keluarganya. Lalu penyebab eksternalnya adalah selain faktor ekonomi orang tua yang tidak memungkinkan melanjutkan sekolah anak-anaknya.

Selain situasi internal anak dan keluarga diatas, ada juga faktor eksternal. Hal ini terkait dengan sarana prasarana yang menunjang, istem pendidikan yang ramah terhadap anak, regulasi yang mendukung, dll. Disamping itu, dukungan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan juga sangat berpengaruh. Pemerintahlah yang berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan ditambah dengan adanya bantuan dari berbagai pihak melalui program-program yang memberdayakan semua elemen pendidikan.  

Gerakan kembali bersekolah

Program ini sangat berdampak besar pada pengurangan angka anak tidak sekolah di mamuju, kegiatan yang intensif dilakukan setiap tahunnya dari 2012 sampai 2019. Sudah terdapat 8000 lebih anak yang telah di kembalikan ke jalur formal dan non formal. Namun angka anak tidak sekolah berjalan dinamis, setiap tahunnya ada saja anak yang drop out, lulus tidak lanjut maupun ats lainnya. Artinya program ini juga harus mengembangkan sayap lebih lebar lagi untuk selalu menjangkau anak tidak sekolah yang selalu ada dan bertambah.

Melihat gencarnya program GKB mamuju tentu dibarengi dengan banyaknya tantangan yang di hadapai. Diantaranya adalah :

1.       Memonitong anak yang telah di kembalikan ke sekolah, hal ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan tingkat partisipasi anak di sekolah sekalis untuk menciptakan upaya intervensi jika ada anak yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya dan terancam drop out.

2.       Memastikan anak yang dikembalikan ke sekolah mendapatkan program PIP, KIP, PKH, BOS khususnya bagi anak yang tidak mampu.

3.       Daya tampung sekolah, guru dan ketersediaan sarana yang memadai

4.       Memastikan kebijakan sekolah dan di perkuat dengan kebijakan pemerintah kabupaten hingga level desa untuk mempermudah anak untuk mengakses sekolah

5.       Menyediakan alternatif anak untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan dibidang yang mereka minati tanpa harus ke sekolah, hal ini untuk memastikan anak yang sama sekali tidak mau kesekolah bisa tetap belajar.

 

Melirik Pendidikan Universal

UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa sebagai pintu masuk bagi desa untuk dapat mendukung  tercapainya  wajib belajar 12 tahun.  Olehnya itu pada tanggal 31 Juli – 1 Agustus 2019 Pemerintah kba. Mamuju yang di dukung oleh Unicef bekerjasama dengan Yayasan Karampuang Mamuju melaksanakan kegiatan Lokalatih Pendidikan Universal bagi semua anak di desa, yang menjadikan 4 desa sebagai piloting program yaitu Desa Bunde, Desa Botteng Utara, Desa Pammulukang dan Desa Dungkait.

 

Pada pertemuan ini menghasilkan Rekomendasi program inovatif dari desa yaitu :

1.     Pembentukan tim P-ATS melalui SK Kepala Desa

 

2.     Penyusunan perdes tentang Penanganan Anak Tidak Sekolah dan Gerakan Kembali Bersekolah

3.     Pendataan DPBM

4.       Menyusun rencana kerja Tim P-ATS

5.       Pendataan rentan anak tidak sekolah

6.       Monitoring ATS yang telah di kembalikan ke sekolah

7.       Pembentukan PKBM binaan Desa

8.       Sosialisasi/ penyuluhan pentingnya pendidikan di sekolah

9.       Dukungan penyediaan persyaratan KIP/PIP dengan melengkapi Sktm dari desa/kelurahan dan Dokumen kependudukan (ktp/kk/akte kelahiran)

 



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar