Perlindungan Anak

RELAWAN PENDAMPING REMAJA PASIGALA DIBEKALI SISTEM PELAPORAN KASUS


RELAWAN PENDAMPING REMAJA PASIGALA DIBEKALI SISTEM PELAPORAN KASUS


Yayasan Karampuang bekerjasama dengan Unicef Indonesia menggelar rapat koordiansi antar relawan pendamping remaja yang tersebar di Palu, Sigi dan Donggala. Kegitan tersebut berlangsung di Tanaris Cafe, Kota Palu pada hari Kamis (21/3/19).

Dalam pertemuan yang dihadiri kurang lebih 80 orang tersebut, para pendamping remaja dibelaki pengetahuan mengenai sistem pelaporan kasus dan tindak lanjutnya. Sebagai narasumber, Robby Saputra, Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial Kab. Sigi hadir memaparkan alur pelaporan bilamana pendamping remaja menemukan kasus diwilayah dampingan mereka.

Robby menyampaikan, situasi pasca bencana sangat rentan adanya kasus. Mulai dari anak terlantar, sampai pada kasus eksploitasi dan perlakuan salah seksual. Dari itu, dibuatlah sistem pelaporan kasus.

“tugas utama kami sebagai peksos adalah melakukan respon kasus pada setiap permasalahan anak. Terkait kasus anak di Pasigala, kami dari peksos diminta untuk membuat sistem pelaporan yang baik, mengingat kondisi pasigala yang rentan adanya kasus di posko peengungsian.” Kata Robby.

Alurnya, ketika ada yang menemukan kasus atau mendapat laporan, pertama, mencari tahu tentang data kasus, sehingga dapat diketahui kejelasan kasusnya . Lalu lakukan assessment atau penelusuran.

“assessment bisa dilakukan dengan pendekatan dulu ke keluarga anak, akan tetapi jika kasusnya agak berat, membutuhkan tekhnik khusus. Jika teman-teman kesulitan, bisa langsung laporkan ke peksos, tapi teman-teman mesti punya catatan singkat terkait kronoligi kasus, tidak hanya disampaikan lewat mulut, tapi mesti tertulis.” Papar Robby.

Setelah melakukan penelusuran, kasus tersebut dilaporkan ke focal point lembaga, kemudian lembaga membuat surat untuk merujuk kasus tersebut. Dapat dirujuk ke peksos, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), juga dapat langsung ke Polres bagian Perlindungan Perempuan dan Anak, dengan melampirkan catatan pada assessment awal.

Robby mengingatkan, agar para relawan pendamping dilapangan tidak langsung menangani kasus, atau langsung membawa bahkan menghakimi anak. Kemudian, setiap ada kasus dampingan, mesti ada lembar persetujuan dari anak yang memuat tentang kode etik selama dilakukan pendampingan kasus.

Setelah, identifikasi, assessment awal, lalu menyampaikan kasus ke peksos, barulah dibuat semacam konferensi bersama lembaga lain lalu menyepakati lembaga mana yang mandampingi kasus yang mana. Setelah itu ada pendampingan lanjutan, rujukan dan alternatif lain. Kemudian ada monitoring dan evaluasi lalu terminasi atau pemutusan kontrak dengan klien.

Dalam situasi normal, kata Robby, peksos mendampingi 4 klaster anak diantaranya, bayi dan balita terlantar, anak terlantar dan anak jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Sekedar diketahui, relawan pendamping remaja yang hadir dalam rakor tersebut dari beberapa lembaga diantaranya, Fasilitator lingkar remaja Yayasan Karampuang – Unicef, Fasilitator ruang ramah anak Yayasan Karampuang – YPII, Peksos, PKBI dan Yayasan Masikola. (dhl)



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar