Umum

Study Pemetaan Sosial Pembangunan Berbasis Data dengan FGD Pemangku Kepentingan di Bababulo


Study Pemetaan Sosial Pembangunan Berbasis Data dengan FGD Pemangku Kepentingan di Bababulo


Majene – Sabtu, 29 Mei 2021, Yayasan Karampuang melakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan di Desa Bababulo, Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. FGD Pemangku Kepentingan tersebut dalam rangka perencanaan berbasis data dalam study pemetaan sosial.

FGD yang berlangsung antara Pemerintah Desa Bababulo, Yayasan Karampuang bersama tim riset data dan pemangku kepentingan desa tersebut membahas beragam aspek berdasarkan data sosial Desa Bababulo. Termasuk aspek sosial budaya, aspek pendidikan, aspek kesehatan, aspek dokumen kependudukan dan aspek ekonomi.

Akhmad Taufiq selaku Peneliti Yayasan Karampuang menjelaskan, sebelumnya telah dilakukan pengumpulan data berbasis android. Data yang terkumpul lalu dipaparkan kepada peserta FGD, kemudian bersama-sama melakukan pemetaan sosial. Selanjutnya menganalisis permasalahan dari berbagai aspek yang ada di desa berdasarkan data, lalu mencari solusi atas permasalahan tersebut.

“Data tersebut kita sudah paparkan ke peserta, kemudian dari berbagi permasalahan yang didapatkan kemudian kita melakukan FGD untuk mencari solusi apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah desanya agar permaslaahan yang kita dapatkan bisa diselesaikan dengan modal dari desa sendiri.” Paparnya.

Hasil FGD tersebut akan menjadi akhir dari study pemetaan sosial yang selanjutnya akan dimuat dalam tulisan berbentuk dokumen hasil riset di Majene. Taufik menyebut bahwa dokumen tersebut akan dicetak dan diberikan kepada pemerintah desa dalam bentuk dokumen resmi.

Sehubungan dengan itu, Direktur Yayasan Karampuang, Ija Syahruni mengatakan bahwa dokumen hasil study pemetaan sosial berbasis data yang akan diberikan kepada Pemerintah Desa tersebut dilakukan secara sensus dan forum diskusi kelompok (FGD) dengan metode partisipatif berbasis masyarakat, melibatkan masyarakat di desa sebagai aktor utamanya, sebagai pencatat/pendata dan sebagai narasumber.

“tentunya kami berharap dokumen yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tantangan pembangunan di desa. Sebab, kita tahu bersama bahwa salah satu tantangan pembangunan berkelanjutan adalah tersedianya basis data yang valid, up to date sehingga dalam menyusun sebuah program benar-benar akan menyasar inti permasalahan yang ada.” Ungkapnya.

Untuk diketahui, selain di Desa Bababulo, program yang sama juga dilaksanakan di Desa Bababulo Utara, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar