Umum

Temu Relawan Sulbar, Mengenang 1 tahun Bencana Palu


Temu Relawan Sulbar, Mengenang 1 tahun Bencana Palu


Mamuju – Satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 September 2018, wilayah Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) Sulawesi Tengah mendapat musibah besar guncangan gempa, tsunami dan likuifaksi. Sebagai salah satu provinsi terdekat dari daerah bencana tersebut, kala itu relawan asal Sulawesi Barat baik dari lembaga, komunitas hingga individu bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Mengenang satu tahun peristiwa tersebut, beberapa lembaga di Sulawesi Barat yakni Yayasan Karampuang, APPK Sulbar, Pemuda Pancasila, IWO Sulbar, Bayu Andrein Vloger, Kawan Anto dan Sulbar Online menggelar temu relawan, menghadirkan puluhan penggiat kemanusiaan yang berkontribusi pada bencana alam Pasigala. Temu relawan berlangsung disalah satu café jl. Cik Ditiro Mamuju, pada Minggu 29 September 2019 digelar dengan tema “Mengenang 1 tahun Tugas Kemanusiaan Bencana Gempa, Tsunami dan Likuifaksi Pasigala.

Sebagai salah satu lembaga yang menginisiasi kegiatan tersebut, Aditiya Yudistira selaku pendiri Yayasan Karampuang menyampaikan bahwa tidak lain kegiatan tersebut digelar untuk menjalin silaturahmi antar relawan kemanusiaan di Sulbar. Ternyata, lanjutnya, di Mamuju ada begitu banyak organisasi kemanusiaan serta individu yang mau bergerak membantu sesama.

Sebagaimana tema dalam pertemuan tersebut, relawan yang hadir berkesempatan menyampaikan pengalamannya saat memberi bantuan kemanusiaan setahun yang lalu. Yayasan Karampuang sendiri, sebagai lembaga yang bergerak dibidang perlindungan anak kala itu mengumpulkan donasi berupa mainan bekas, buku bacaan, hingga perlengkapan sekolah. Sebagaimana yang disampaikan oleh direktur Yayasan Karampuang, Ija Syahruni bahwa setahun lalu, dengan penuh keterbatasan kita bergerak, namun tak disangka antusias masyarakat mamuju untuk membantu anak-anak di Pasigala ternyata begitu besar.

“Saking banyaknya bantuan dari saudara-saudara kita di mamuju, waktu itu kita bahkan meminjam bis KB milik Pemkab Mamuju untuk mengangkut bantuan-bantuan tersebut.” Kata Ija.

Komunitas Gema Difabel juga hadir dalam temu relawan tersebut. Mewakili komunitasnya, Sabar menyampaikan, setahun lalu ia bersama kawan-kawan difabel juga bergerak melakukan bantuan kemanusian. Sabar menyampaikan bahwa komunitasnya lebih konsen pada orang-orang yang beresiko tinggi seperti orang-orang difabel dan lansia. Ia berharap, kedepannya dalam penanganan bencana ada kelompok yang konsen pada pengurangan resiko inklusi.

Ditempat yang sama, juga hadir Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Barat, H. Namru Asdar. Ia menyampaikan, kegiatan temu relawan tersebut merupakan bukti bahwa di Mamuju Sulawesi Barat masih terjalin hubungan silaturahmi yang baik.

“Saya bersyukur sampai sekarang kita dalam kondisi aman, salah satunya karena kita mau bersilaturahmi satu sama lain tanpa membedakan suku, agama dan ras. Kita bersatu demi kemanusiaan.” Sebutnya.

Mengakhiri kegiatan tersebut, relawan Sulbar melakukan do’a bersama yang dipimpin oleh H. Namru Asdar untuk mendoakan korban bencana Pasigala agar diberi tempat yang layak disisi Tuhan yang Maha Esa. Kemudian, supaya tali silaturahmi dapat tetap terjalin, para relawan yang hadir pada malam itu sepakat untuk melakukan temu relawan secara berkala. (dhl)



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar