Pendidikan

Tindak Lanjuti Data ATS, Lurah Gunung Bale Lakukan FGD Door to Door


Tindak Lanjuti Data ATS, Lurah Gunung Bale Lakukan FGD Door to Door


Donggala – Pemerintah Kelurahan Gunung Bale, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala melakukan FGD (focus group discussion) atau diskusi terfokus kepada Anak Tidak Sekolah (ATS) dan orang tua/walinya. FGD tersebut dilakukan secara door to door atau langsung mendatangi rumah warga, yang dipimpin langsung oleh Lurah Gunung Bale, Kalsum Haludin pada Ahad (4/10/2020).

Berdasarkan keterangan Kalsum, FGD dijadwalkan berlangsung 3 hari hingga Selasa (6/10) besok. Ia menjelaskan, pertemuan antara warga dan pemerintah kelurahan tersebut difasilitasi oleh ketua RT setempat. Adapun prosesnya, warga di kelurahan gunung bale cukup merespon dengan baik.

“atas fasilitasi pak RT, kami turun langsung, ketemu dengan orang tua dan anak yang tidak bersekolah. Kami membicarakan terkait anaknya yang putus sekolah atau yang tidak bersekolah, lalu kita sama-sama mencari solusi agar anaknya dapat bersekolah kembali.” Urainya.

Lebih jauh Kalsum menjelaskan bahwa, orang tua dan anak sangat merespon dan setuju untuk diikutkan bersekolah kembali baik pada sekolah umum maupun di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).

“setelah kami berdiskusi dengan orang tua dan anak, Alhamdulillah kami mendapat respon dan mereka senang karena bisa kembali sekolah secara gratis, apalagi yang di PKBM karena mereka tidak harus membeli seragam sekolah. Jadi secara umum ada anak yang kembali bersekolah di PKBM dan ada juga di sekolah umum.” Terangnya.

“ada yang sudah menikah tapi masih usia anak, setelah kami berdiskusi ternyata mereka mau ikut kembali bersekolah di PKBM. Selain itu ada yang putus sekolah, dia juga mau kembali bersekolah, tapi mau pindah dari sekolah asalnya, itu juga sudah kami catat dan akan ditindaklanjuti.” jelasnya.

Mengurai hasil FGDnya, Kalsum mengatakan bahwa dari  39 anak tidak sekolah usia 7-18 tahun di Kelurahan Gunung Bale, 16 anak diantaranya sudah sepakat untuk kembali bersekolah, kemudian ada 2 anak ternyata masih berstatus sekolah, lalu 4 anak sudah tidak tinggal di Kelurahan Gunung Bale, ada 2 anak disabilitas, dan 2 anak tidak ingin bersekolah. Sementara 12 anak lainnya masih dalam tahap FGD.

“2 anak kita temui katanya memang sudah tidak ingin lagi bersekolah karena sudah bekerja. Kemudian 2 anak yang disabilitas itu, yang satunya ada gangguan mental, dan satunya lagi ingin kembali sekolah namun orang tuanya bekerja, jadi mereka khawatir nanti tidak bisa dampingi anaknya saat bersekolah. Namun kami tetap mengupayakan agar semuanya dapat kembali sekolah. Ini menjadi PR kami.” Papar Kalsum.

Kegiatan FGD door to door merupakan rangkaian kegiatan SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) yang fokus pada sektor pendidikan. Kegiatan ini berlangsung atas dukungan dan kerjasama Unicef Indonesia kemitraan Yayasan Karampuang dan Pemerintah Kabupaten/Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Program Officer Yayasan Karampuang, Muh. Zabir Saleh menjelaskan bahwa kegiatan FGD anak tidak sekolah (ATS) merupakan tindak lanjut atas data SIPBM di desa/kelurahan yang menampilkan data anak tidak sekolah by name by address. FGD dilakukan untuk memberi dorongan kepada orang tua dan anak yang tidak bersekolah untuk dapat ikut bersekolah.

“jadi program kita fokus pada anak usia 7 sampai 18 tahun yang tidak bersekolah. Di FGD ini kita berdiskusi dengan anak dan orang tua untuk mendengarkan secara langsung alasan mereka tidak sekolah dan kemudian diadvokasi untuk dikembalikan ke sekolah.” Terangnya.

Lebih lanjut Zabir menjelaskan, selain di Kelurahan Gunung Bale, program yang sama juga dilakukan di 11 desa/kelurahan yang tersebar di Pasigala. Diantaranya, Kelurahan Lambara, Pantoloan Boya, Kabonena dan Tipo untuk Kota Palu, dan di Desa Kabobona, Soulowe, Padende dan Loru untuk Kabupaten Sigi, serta di Desa Loli tasiburi, Wani Satu dan Dalaka untuk Kabupaten Donggala. Adapun data anak tidak sekolah yang tercantum pada SIPBM per 22 September 2020 di 12 lokasi intervensi tersebut sejumlah 594 anak.

Zabir menguraikan, terdapat 3 kategori anak tidak sekolah, yaitu anak yang belum pernah bersekolah (BPS), anak yang lulus tidak lanjut, dan anak putus sekolah. Ia berharap, semua data anak tidak sekolah dapat diadvokasi untuk bersekolah, sehingga tidak ada lagi anak usia 7-18 tahun yang tidak mendapatkan pendidikan. (dhl)



Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar