Perlindungan Anak

Trauma healing anak pasca bencana di Sulteng dengan pendekatan lingkar remaja


Trauma healing anak pasca bencana di Sulteng dengan pendekatan lingkar remaja


Palu- Tim relawan Yayasan Karampuang Mamuju melakukan trauma healing bagi anak-anak korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah, 28 September lalu. Kegiatan mengobati rasa trauma atas bencana tersebut dilakukan dengan cara berbeda, yaitu dengan pendekatan lingkar remaja yang dipandu oleh fasilitator remaja asal Mamuju binaan Unicef Indonesia. Kenapa berbeda? Lukman, salah satu fasilitator remaja yang turut menjadi relawan di Palu pada tanggal 13-14 Oktorber mengatakan, disesi lingkar remaja, anak-anak tidak hanya bermain, tapi juga diajak untuk lebih mengenali potensi diri mereka, juga membangkitkan semangat untuk meraih cita-cita mereka. "di posko trauma healing kami menggunakan panduan sesi dari Unicef, yang telah kami gunakan sebelumnya di lingkar remaja Mamuju." sebut Lukman.

Untuk diketahui, sebelumnya, fasilitator remaja asal mamuju ini telah melakukan kegiatan lingkar remaja untuk program pencegahan pernikahan usia anak di Kabupaten Mamuju. Meskipun berbeda konten, Lukman mengatakan bahwa disesi awal lingkar remaja masih bersifat umum, belum menyentuh soal pencegahan perkawinan anak, sehingga dapat diterapkan pada kegiatan trauma healing pasca bencana di Sulawesi Tengah. Juga selaku Fasilitator remaja, Dian Hardianti yang turut menjadi relawan di Palu, tepatnya di Petobo, mengatakan bahwa dengan sesi lingkar remaja, anak-anak dapat lebih menerawang impian mereka dan apa yang mesti mereka lakukan untuk mencapai cita-cita mereka. "Di lingkaran remaja, kami ada sesi yang menuliskan cita-cita. ternyata anak-anak di petobo memiliki cita-cita yang luar biasa. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, TNI, juga ada yang bercita-cita menjadi atlet lari, atlet balap motor, penunggang kuda, juga ada yang ingin menjadi Pemadam Kebakaran. Pokoknya cita-cita mereka beragam. Saya sendiri salut melihat anak-anak disana yang masih optimis meraih impian mereka." urai Dian.

Anak-anak yang tergabung di posko bermain Yayasan Karampuang dibagi dalam tiga kelompok. Pertama usia 0-5 tahun untuk kelas bermain, lalu usia 6-9 tahun untuk kelas mendongeng, menggambar dan mewarnai dan usia 9-14 tahun di kelas Lingkar remaja. Melihat semangat anak-anak korban bencana di Sulteng terebut, Koordinator tim relawan Yayasan Karampuang, Aditiya Yudistita mengatakan bahwa timnya akan melakukan kegiatan trauma healing tahap II pada tanggal 27 sampai 28 Oktober. Untuk titik pos bermain dan lingkar remaja, sama seperti tahap I yaitu di Petobo, Balaroa, dan Kelurahan Dayu Bantaya. Namun rencananya, di tahap II, tim akan menambah satu titik pos bermain yakni di Sigi. (dhl)


Berikan Penilaian Anda :
Komentar


Tinggalkan Komentar
gambar